 |
| Dollar US mata uang yg paling stabil |
Saya merasa terusik juga dengan banyaknya komentar miring krn naiknya kurs dollar yang cukup signifikan belakangan ini. Sialnya kondisi ini digoreng dengan tujuan bermacam-macam. Saya mempelajari ekonomi moneter sejak di bangku kuliah sampai di kelas pascasarjana, bagaimana rumitnya tugas Bank Indonesia untuk menjaga kestabilan kurs ini.
Kurs terjadi karena Indonesia terlibat perdagangan dengan negara lain, turun-naiknya kurs itu ka
rena permintaan dan penawaran sesuai hukum ekonomi. Mengapa kurs dollar tinggi karena kebutuhan dollar tinggi akibat meningkatnya permintaan dollar. Coba kita selidiki apa penyebab-penyebabnya.
Pertama, Kebijakan Trump yg menimbulkan perang dagang US – China sangat berpengaruh thd ekonomi Indonesia. Amerika membatasi perdagangan produk-produk dari China, imbasnya bahan baku industri China yang banyak diekspor dari Indonesia ke China otomatis langsung turun, seperti hasil tambang batubara, gas dll. Eksport menurun akibatnya kurs juga terganggu. Demikian juga kebijakan Uni Eropa yg membatasi eksport minyak kelapa sawit (kalau hal ini masih bisa kita terlibat berunding).
Kedua, masih ingat dengan krisis Subprime Mortgage di US tahun 2000? Untuk memulihkan perekonomian US menerapkan suku bunga sangat rendah di bawah 1% per annum. Sementara suku bunga di Indonesia mencapai 6%, sehingga akibat gab tsb, Indonesia dibanjiri hot money, masuk di pasar uang dan pasar saham. Portfolio hot money di Indonesia mencapai 60% menurut perkiraan. Bahayanya uang tsb dapat pindah sewaktu-waktu dengan mudah dengan menjual saham atau obligasi. Asing menjual surat berharga lalu menukarnya dengan dollar, sehingga permintaan dollar tinggi, imbasnya kurs juga terganggu. Terlebih rencana US untuk menaikkan suku bunga oleh Federal Reserve, sehingga hot money mulai merelokasi assetnya.
Ketiga, untuk menaikkan nilai tukar Indonesia perlu mengeksport sebanyak-banyaknya produk dalam negeri ke negara lain. Sayangnya, banyak pengusaha yang nakal karena hasil eksport tsb malah di simpan di Singapura dalam bentuk dollar bukan masuk langsung ke Indonesia. Paling di bawa masuk untuk kebutuhan operasional pabrik dll. Itu sebabnya kurs rupiah tetap loyo.
Keempat, guna menjaga stabilitas kurs maka kebijakan lain seperti menarik investor masuk ke Indonesia. Mereka membawa masuk uangnya tentu akan menaikkan kurs rupiah secara positif. Namun lagi-lagi isu pekerja asing dll menjadi gorengan yang empuk menjelang pemilu dan pilpres. Karena akibat perdagangan bebas, selain modal, tenaga kerja juga menjadi lebih terbuka masuk ke Indonesia.
Kelima, kadang kala gejolak politik menimbulkan ketidak-pastian membuat investor dan pengusaha menjadi bimbang dalam melakukan invasi bisnis. Hal ini juga memerlukan penanganan yang baik, menjaga kondusifitas negara. Negara yg tidak aman akan menurunkan tingkat kurs mata uangnya.
Demikian sedikit uraian, semoga bisa mencerahkan. Jangan kita mudah diperdaya, dengan ganti rezim. Terlalu naif kalau semua kesalahan ditimpakan ke pemerintah tanpa melihat upaya yang baik pula dari segenap warga memperbaikinya. Takutnya, ini hanya bualan politis, apakah hal ini akan mudah teratasi bila yang lain diberi mandat? Wallahualam....!
Salam dari Cibubur.
Martin L. Peranginangin