![]() |
| Siap maju menjadi Anggota DPRD Tk I Sumut Dari Partai Solidaritas Indonesia |
Diskusi di medsos beberapa hari lalu, beberapa orang mempertanyakan soal domisili saya di luar Sumatera Utara, mengapa harus mencalonkan di Sumut? Hal senada juga dahulu mencul dikala pilkada menyangkut Djarot bukan asli dari Sumatera Utara. Perlu dijelaskan bahwa saya kelahiran di Langkat, Sumatera Utara dan hingga pendidikan S1 saya tempuh di sana. Namun, saya kira hal ini tidak relevan lagi di era milen
ial.
ial.
Saat ini kita berada di suatu masa bernama mazhab globalisasi, isu putra daerah sebenarnya sudah tidak relevan lagi. Di era milenial, manusia sdh bisa berinteraksi antar benua. Mereka memberikan kontribusi terhadap daerahnya terkadang lebih besar dari org yang bermukim di daerah itu sendiri. Ikatan diaspora di seluruh dunia bisa memberi kontribusi bagi daerahnya masing-masing. Isu putra daerah biasa digoreng menjelang pilkada, pilpres maupun pileg, sesungguhnya isu yang sudah basi.
Tapi tak mengapa kita telusuri siapa sebenarnya leluhur kita. Wilayah Sumatera Utara saat ini di jaman kolonial dibagi dua residen, yakni Sumatera Timur dan residen Tapanuli. Residen Sumatera Timur meliputi afdeling Langkat, Deli dan Serdang, Asahan, Simalungun (Siantar) dan Karo. Residen Tapanuli berkedudukan di Sibolga mencakup Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. Sebelum kolonial, belum ada batas wilayah yang jelas.
Di wilayah Deli (Medan saat ini) penduduk dominan saat itu adalah Karo dan Melayu. Melayu mendiami pesisir dan Karo mendiami pedalaman. Kampung Medan didirikan oleh Guru Patimpus Sembiring di abad 16, ia menikah dgn br Bangun 1590 dan awalnya tinggal di Perbaji. Ia seorang tabib (guru dlm bahasa Karo = dukun). Nama Medan diduga berasal dari bahasa Karo 'Madaan' yang bermakna sembuh.
Tahun 1863, Neinhuis berniat membuka perkebunan di wilayah ini. Ia mempelajari struktur masyarakat dan kemudian memutuskan melakukan sewa lahan 4000 ha kepada sultan Deli. Kolonial melakukan konsesi dgn sultan karena sistem organisasi nya lebih baik ketimbang suku Karo krn hanya mengakui sistem peradatan yg di pandang lemah dari sisi hukum. Dari hasil konsesi sultan kemudian membangun istana Maimoon. Sejak itu suku Karo merasa terpinggirkan, dan terjadi perlawanan. Terlebih hak konsesi lahan yg disepakati mencaplok tanah ulayat suku Karo. Perang ini dikenal dengan Batak Oorlog (perang Batak/perang Sunggal 1872 -1895). Orang Karo sendiri mengenal perlawanan ini dgn Musuh Berngi yang membakar bangsal-bangsal gudang tembakau di malam hari.
Perlawanan suku Karo kemudian diatasi dengan mengirim misionaris ke suku Karo untuk memperkenalkan arti dosa. Disamping itu untuk membendung pengaruh Aceh dari utara. Tahun 1890 misionaris pertama H.C Kruyt tiba di Buluh Awar untuk mulai menginjili suku Karo. Misi ini gagal, tidak ada yang tertarik menjadi pengikutnya karena suku Karo di dataran rendah masih terlibat dalam perlawanan. Kemudian misi kedua mengirim J.K Wijngarden dan baru mulai org Karo masuk Kristen 6 org.
Org Karo dan Melayu enggan bekerja di perkebunan, kalau pun ada beberapa suku Karo menjadi Centeng sebagai pengawas untuk membuka lahan. Kemudian pihak perkebunan membawa kuli kontrak dari pulau Jawa. Tahun 1880 dikirim 150 org pertama melalui kapal bekerja di perkebunan tembakau. Dalam perkembangannya tembakau Deli mendapat sambutan baik di Eropa sehingga perkebunan terus dikembangkan, dan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak. Orang Cina dan Tamil dibawa juga dari Penang untuk pekerjaan yang lebih baik. Kawasan ini menjadi masyur ke penjuru dunia yang dikenal dengan julukan 'the dollar land of Deli'.
Pendatang semakin banyak bermukim di wilayah ini, sehingga dalam waktu singkat Melayu dan Karo menjadi minoritas. Beragam suku dan latar belakang mengadu nasib menjadi pekerja dan pedagang di tempat ini. Dewasa ini, Sumut sering dijuluki miniatur Indonesia, karena beragam etnis mendiami wilayah ini. Damai dan tentram, jarang terusik oleh isu-isu keretakan walaupun sangat majemuk. Meski kadang ada riak-riak kecil terjadi, namun janganlah pilkada, pilpres dan pileg membuat suasana makin riuh. Semoga... Salam dari Cibubur.
Sumber: https://www.facebook.com/MartinPeranginanginPSI/posts/607664062927527
