![]() |
| Putri bungsu saya dalam suatu acara |
Beruntung kita hidup bukan di jaman batu tapi dlm dekade dunia yang borderless (dunia tanpa batas) atau sebutan lain dari globalisasi. Interaksi manusia bukan saja antar wilayah atau pulau, kini bahkan kita dapat berkomunikasi antar benua mungkin antar planet. Ini sesuatu yg sdh biasa, dimana beberapa dekade lalu itu semacam ilusi saja. Orang-orang bebas bergerak dari suatu negara ke negara lain asal punya hepeng. Kita bisa beriteraksi dgn siapa saja, dimana saja, kapan saja berapa orang saja. Kita boleh berteman seperti yang kita mau, kalau tak cocok cukup unfriend saja. Poinnya adalah interaksi personal di era digital saat ini bertambah drastis secara eksponensial, dibandingkan jaman sebelum tahun 90-an. Kita bisa memiliki teman ribuan orang, puluhan ribu atau jutaan orang bahkan.
Namun ironisnya, semakin kita hidup global ada kecendrungan orang berpikir semakin sempit. Hanya memikirkan dirinya sendiri, kelompoknya sendiri. Menarik diri dari pergaulan luar bahkan cendrung introvert, ego-centris atau entah apalah sebutannya yg lain. Penulis futuris, John Naisbitt pernah menyebut dalam bukunya Global Paradox, bahwa semakin dunia meng-global, ada kecendrungan orang berpikir ego-centris. Itu semacam paradox yang terjadi di sekeliling kita. Sulit bagi mereka menerima kenyataan perubahan dunia yang semakin cepat, deras dan tak terbendung itu. Naisbitt memberi nasihat "Think global act locally" untuk berperan dalam ranah bisnis. Namun untuk pergaulan sosial, apakah kita harus act locally, ego-centris, fanatis? Di luar pemahaman mereka, yang lain sesat sebutan kata lain kafirun? Common, gunakan akal sehat..! Ingat Tuhan menciptakan manusia dan semesta, tidak menciptakan agama, tidak menciptakan sekat-sekat. Pemahaman ego-centris adalah persepsi manusia,
Kecemasan saya bukan terhadap terkotak-kotaknya manusia dalam pemikirannya masing-masing, namun rapuhnya interaksi yang dibangun bisa menjadi 'pertikaian' atau bahkan 'peperangan' di kemudian hari. Saya mencoba memulai dari diri sendiri. Anak bungsu saya, sejak dini saya sekolahkan di sekolah umum. Memang, bersekolah berbasis religi itu baik, namun saya berharap bahwa keragaman itu penting untuk dia pahami sejak dini sebagai bekalnya kelak. Biarlah anak-anak mengenal dunia ini secara luas dan global, bahwa ada banyak hal lain di luar sana yang blm mereka kenal selama ini. Tidak kikuk ketika mereka keluar dari rumah suatu saat kelak, mereka sudah terbiasa dengan perbedaan dan keragaman. Meski, aku juga senantiasa mengenalkan siapa dirinya, bagaimana keyakinannya tanpa bisa alfa.
Perbedaan itu indah. Salam....!
#PartaiSolidaritasIndonesia
#AntiKorupsi
#AntiIntoleransi
#PSIME11ANG
Perbedaan itu indah. Salam....!
#PartaiSolidaritasIndonesia
#AntiKorupsi
#AntiIntoleransi
#PSIME11ANG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar